Sekolah yang Ramah Anak: Apa yang Bisa Dilakukan Guru dan Orang Tua?

Sekolah seharusnya menjadi tempat anak merasa aman untuk belajar, bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan. Namun, suasana sekolah yang ramah anak tidak cukup dibangun hanya dengan aturan tertulis di dinding kelas.
Cara guru berbicara kepada murid, bagaimana sekolah menangani konflik, sampai cara orang tua merespons cerita anak setelah pulang sekolah semuanya ikut menentukan apakah anak merasa dihargai atau justru tertekan.
Gagasan Satuan Pendidikan Ramah Anak (SRA) sendiri menempatkan pemenuhan hak dan perlindungan anak sebagai bagian penting dari lingkungan pendidikan. Pemerintah juga terus mendorong budaya sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. (Kemen PPPA RI)
Lalu, apa yang sebenarnya bisa dilakukan guru dan orang tua?
Apa yang Dimaksud Sekolah Ramah Anak?
Sekolah ramah anak bukan berarti sekolah yang membiarkan murid melakukan apa saja.
Justru sebaliknya, anak tetap membutuhkan aturan, batasan, dan disiplin. Bedanya, aturan diterapkan dengan cara yang menghargai martabat anak dan tidak menggunakan kekerasan sebagai jalan keluar.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menempatkan empat prinsip penting dalam Satuan Pendidikan Ramah Anak, yaitu non-diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak hidup dan tumbuh kembang, serta penghargaan terhadap pandangan anak. (Kemen PPPA RI)
Artinya, sekolah perlu melihat murid bukan sekadar sebagai penerima instruksi, tetapi sebagai individu yang memiliki kebutuhan, perasaan, dan suara.
Guru Punya Peran Besar dalam Menciptakan Rasa Aman
Guru adalah salah satu orang dewasa yang paling sering berinteraksi dengan anak di sekolah. Karena itu, cara guru memberikan arahan bisa sangat berpengaruh.
1. Tegas Tanpa Mempermalukan
Anak yang melakukan kesalahan tetap perlu ditegur. Tetapi menegur tidak harus dilakukan dengan mempermalukan anak di depan teman-temannya.
Misalnya, ketika seorang murid tidak mengerjakan tugas, guru dapat membicarakan penyebabnya dan mencari solusi. Ini berbeda dengan langsung memberi label seperti "malas" atau "tidak bertanggung jawab".
Disiplin tetap berjalan, tetapi anak belajar dari kesalahannya tanpa merasa dirinya sebagai pribadi yang buruk.
Pendekatan seperti ini sejalan dengan dorongan pemerintah untuk mengubah paradigma disiplin di sekolah menjadi lebih ramah anak dan bebas dari kekerasan. (Kemendikdasmen)
2. Beri Ruang untuk Bertanya
Anak yang takut salah biasanya akan lebih memilih diam.
Guru bisa menciptakan suasana kelas yang membuat murid berani mengatakan, "Saya belum paham," tanpa takut ditertawakan.
Tidak semua anak memiliki keberanian yang sama. Ada yang langsung mengangkat tangan, ada yang baru berani bertanya setelah pelajaran selesai.
Keduanya tetap membutuhkan ruang.
3. Perhatikan Perubahan Perilaku Murid
Guru sering menjadi orang pertama yang melihat perubahan pada anak.
Murid yang biasanya aktif tiba-tiba diam. Anak yang sebelumnya rajin mulai sering tidak masuk. Atau seorang siswa tiba-tiba terlihat takut berinteraksi dengan kelompok tertentu.
Perubahan seperti ini tidak selalu berarti terjadi bullying atau masalah serius. Namun, layak diperhatikan dan dibicarakan secara hati-hati.
Sekolah ramah anak membutuhkan mekanisme pengaduan dan penanganan yang jelas ketika anak mengalami masalah. (E-Learning KemenPPPA)
Orang Tua Tidak Hanya Berperan di Rumah
Sekolah yang ramah anak tidak mungkin dibangun oleh guru sendirian.
Orang tua juga punya peran penting, terutama dalam membangun komunikasi dua arah dengan sekolah. Dalam indikator SRA, partisipasi orang tua, keluarga, masyarakat, dan pemangku kepentingan memang menjadi salah satu komponen penting. (JDIH Kemenpppa)
4. Dengarkan Cerita Anak Tanpa Langsung Menghakimi
Ketika anak pulang dan berkata, "Aku nggak suka sekolah," jangan langsung membalas, "Kamu harus bersyukur bisa sekolah."
Kalimat tersebut mungkin benar dari sudut pandang orang tua, tetapi belum tentu menjawab masalah yang sedang dirasakan anak.
Coba gali lebih pelan.
"Bagian mana yang bikin kamu nggak suka?"
"Terjadi apa tadi?"
"Siapa yang ada di sana?"
Pertanyaan sederhana bisa membantu anak merasa bahwa ceritanya dianggap penting.
5. Jangan Langsung Menyalahkan Guru
Ketika anak menceritakan masalah di sekolah, orang tua tentu ingin melindunginya. Namun, mengambil kesimpulan sebelum mengetahui situasi secara lengkap juga bisa memperkeruh keadaan.
Jika ada masalah, komunikasikan dengan guru atau pihak sekolah. Cari fakta, dengarkan penjelasan dari beberapa sisi, kemudian cari penyelesaian yang paling baik untuk anak.
Tujuannya bukan mencari siapa yang kalah dan siapa yang menang, tetapi memastikan masalah tidak berulang.
Sekolah Ramah Anak Juga Harus Aman Secara Fisik dan Digital
Lingkungan sekolah yang aman bukan hanya soal tidak adanya kekerasan fisik.
Anak juga perlu merasa aman secara psikologis, sosial, dan digital. Pemerintah pada 2026 bahkan memperkuat perlindungan anak di ruang digital melalui literasi digital, peningkatan kapasitas pendidik, dan edukasi keamanan digital bagi siswa serta orang tua. (Kemendikdasmen)
Ini semakin relevan karena konflik antarmurid tidak selalu berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Percakapan di grup chat, komentar media sosial, atau penyebaran foto tanpa izin bisa menjadi masalah baru.
Guru dan orang tua perlu membantu anak memahami batas privasi, etika berkomunikasi, dan cara meminta bantuan ketika menghadapi masalah di ruang digital.
Anak Juga Perlu Dilibatkan
Salah satu kesalahan dalam membangun sekolah ramah anak adalah terlalu banyak membuat keputusan tentang anak tanpa melibatkan anak.
Padahal, suara murid penting.
Sekolah bisa meminta masukan sederhana tentang hal-hal yang membuat mereka merasa aman atau tidak nyaman, menyediakan saluran pengaduan, dan melibatkan siswa dalam kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan sekolah.
Anak tidak harus menentukan seluruh aturan sekolah. Tetapi mereka perlu diberi kesempatan menyampaikan pengalaman dan pendapatnya.
Partisipasi anak sendiri termasuk salah satu komponen dalam indikator Sekolah Ramah Anak. (JDIH Kemenpppa)
Bagaimana Jika Terjadi Bullying?
Jangan menganggap bullying sebagai sekadar "anak-anak sedang bercanda".
Jika tindakan tersebut berulang, membuat anak takut, tertekan, terisolasi, atau merasa tidak aman, masalahnya perlu ditangani dengan serius.
Orang tua sebaiknya mendengarkan anak, mencatat kejadian yang diketahui, kemudian menyampaikannya kepada pihak sekolah. Guru dan sekolah perlu memiliki mekanisme yang jelas untuk menerima laporan, melakukan penanganan, dan memastikan anak mendapatkan perlindungan.
Pencegahan kekerasan memang menjadi salah satu fokus utama dalam penguatan Satuan Pendidikan Ramah Anak. (Kemen PPPA RI)
Yang penting, anak yang menjadi korban tidak justru dibuat merasa bersalah karena melapor.
Sekolah Ramah Anak Dimulai dari Hal-Hal Kecil
Sekolah yang ramah anak tidak selalu ditandai oleh fasilitas yang mewah atau slogan besar di depan gerbang.
Kadang tandanya justru sederhana: guru mau mendengarkan, murid berani bertanya, orang tua bisa berdiskusi dengan sekolah, kesalahan tidak dibalas dengan penghinaan, dan laporan masalah ditangani dengan serius.
Guru membutuhkan dukungan orang tua. Orang tua juga membutuhkan sekolah yang terbuka terhadap komunikasi. Anak berada di tengah-tengahnya sebagai pihak yang seharusnya mendapatkan manfaat paling besar.
Karena itu, menciptakan sekolah yang ramah anak bukan pekerjaan satu pihak. Guru, orang tua, sekolah, dan anak perlu bergerak bersama agar sekolah benar-benar menjadi tempat yang aman untuk belajar, bertumbuh, dan berkembang.


Post a Comment