Featured Post

Sekolah yang Ramah Anak: Apa yang Bisa Dilakukan Guru dan Orang Tua?

Sekolah seharusnya menjadi tempat anak merasa aman untuk belajar, bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan. Namun, suasana sekolah yang ramah …
Sekolah yang Ramah Anak: Apa yang Bisa Dilakukan Guru dan Orang Tua?

Anak Sering Sakit Gigi? Ini Kebiasaan yang Perlu Diperhatikan Sejak Dini

Anak Sering Sakit Gigi? Ini Kebiasaan yang Perlu Diperhatikan Sejak Dini

Anak mengeluh sakit gigi biasanya baru membuat orang tua benar-benar panik. Apalagi kalau keluhannya muncul malam hari, ketika klinik sudah tutup dan anak sulit tidur karena rasa sakit.

Padahal, sakit gigi pada anak sering kali bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ada kebiasaan sehari-hari yang perlahan meningkatkan risiko gigi berlubang atau masalah gigi lainnya.

Karies gigi juga bukan masalah sepele. Data terbaru Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan bahwa karies gigi menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan pada kelompok anak usia sekolah dan remaja, dengan lebih dari 40% peserta yang diperiksa mengalami kondisi tersebut. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Kabar baiknya, banyak faktor risiko karies bisa dikurangi melalui kebiasaan yang dibangun sejak dini.

Kenapa Anak Bisa Sering Sakit Gigi?

Salah satu penyebab paling umum adalah karies atau gigi berlubang. Prosesnya terjadi ketika plak pada permukaan gigi berinteraksi dengan gula dari makanan dan minuman sehingga menghasilkan asam yang secara bertahap merusak struktur gigi. Jika tidak dicegah atau ditangani, karies dapat menyebabkan nyeri, gangguan makan dan tidur, bahkan infeksi. (Organisasi Kesehatan Dunia)

Kebiasaan anak juga berpengaruh. Terlalu sering mengonsumsi makanan atau minuman manis, jarang membersihkan gigi dengan baik, serta tidak melakukan pemeriksaan rutin dapat meningkatkan risiko masalah gigi.

Menariknya, yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa banyak gula yang dikonsumsi, tetapi juga seberapa sering anak terpapar makanan dan minuman manis sepanjang hari.

1. Batasi Kebiasaan Minum dan Makan Manis

Permen memang bukan satu-satunya penyebab gigi berlubang.

Biskuit, kue, cokelat, minuman manis, teh dengan gula, susu dengan tambahan gula, hingga jus buah juga dapat menyumbang asupan gula bebas.

Masalahnya sering muncul ketika anak mengonsumsi makanan atau minuman manis berkali-kali sepanjang hari. Misalnya, pagi minum minuman manis, di sekolah membeli teh kemasan, sore makan biskuit, lalu malam kembali minum minuman manis.

WHO menyebut konsumsi gula bebas sebagai salah satu faktor risiko utama karies gigi. Membatasi konsumsi gula membantu menurunkan risiko kerusakan gigi. (Organisasi Kesehatan Dunia)

Bukan berarti anak tidak boleh menikmati makanan manis sama sekali. Yang lebih realistis adalah mengurangi frekuensi dan membangun pola makan yang lebih seimbang.

Air putih bisa menjadi pilihan utama untuk minuman sehari-hari.

2. Jangan Hanya Menyikat Gigi Saat Ingat

Anak mungkin berkata, "Tadi sudah sikat gigi."

Masalahnya, kadang sikat gigi hanya dilakukan sekali, terlalu sebentar, atau bagian tertentu tidak dibersihkan dengan baik.

WHO merekomendasikan menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride, dengan konsentrasi fluoride sekitar 1.000–1.500 ppm. (Organisasi Kesehatan Dunia)

Waktu yang paling mudah dijadikan rutinitas adalah setelah sarapan dan sebelum tidur.

Untuk anak yang masih kecil, jangan berharap mereka langsung bisa membersihkan seluruh permukaan gigi dengan sempurna. Orang tua masih perlu membantu atau mengawasi proses menyikat gigi.

AAPD juga menyarankan orang tua membantu anak usia sekitar 3–6 tahun saat menyikat gigi dan menggunakan pasta gigi fluoride dalam jumlah sesuai usia. (AAPD)

3. Perhatikan Cara Anak Menggunakan Pasta Gigi

Pasta gigi fluoride memang penting untuk membantu mencegah karies, tetapi jumlah yang digunakan anak perlu disesuaikan dengan usianya.

Untuk anak usia 3–6 tahun, AAPD merekomendasikan jumlah pasta gigi sekitar sebesar kacang polong dan orang tua sebaiknya tetap membantu proses menyikat gigi. (AAPD)

Anak juga perlu dibiasakan untuk tidak menelan pasta gigi.

Tidak perlu membuat aktivitas menyikat gigi terasa seperti pelajaran serius. Pilih sikat gigi yang nyaman, buat rutinitas yang konsisten, dan jika perlu gunakan lagu pendek agar anak terbiasa menyikat gigi selama waktu yang cukup.

4. Jangan Menunggu Sakit untuk Memeriksakan Gigi

Ini salah satu kebiasaan yang cukup sering terjadi.

Anak dibawa ke dokter gigi setelah giginya sudah berlubang besar atau ketika rasa sakit tidak tertahankan.

Padahal, pemeriksaan rutin dapat membantu menemukan masalah lebih awal. AAPD merekomendasikan kunjungan ke dokter gigi anak secara berkala; frekuensinya dapat disesuaikan dengan kondisi dan risiko karies masing-masing anak. (AAPD)

Kementerian Kesehatan juga menempatkan pemeriksaan gigi sebagai bagian dari layanan kesehatan anak sekolah. Dalam program CKG, pemeriksaan kesehatan gigi dilakukan sebagai bagian dari upaya mendeteksi masalah kesehatan sejak dini. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Jadi, pemeriksaan gigi tidak perlu menunggu anak mengeluh.

5. Jangan Anggap Gigi Susu Tidak Penting

Ada anggapan, "Nanti juga ganti gigi permanen."

Ini salah satu alasan masalah gigi susu kadang terlambat ditangani.

Gigi susu tetap memiliki fungsi penting untuk membantu anak makan, berbicara, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Karies pada gigi anak juga dapat menyebabkan rasa sakit dan mengganggu makan maupun tidur. (Organisasi Kesehatan Dunia)

Karena itu, gigi susu tetap perlu dirawat meskipun nantinya akan tanggal.

Jika anak mengalami lubang, nyeri, gusi bengkak, atau keluhan berulang, sebaiknya diperiksa oleh dokter gigi.

6. Perhatikan Kebiasaan Makan di Antara Waktu Makan

Anak yang terus-menerus ngemil makanan manis sepanjang hari memberi kesempatan lebih sering bagi gigi terpapar gula.

Bukan berarti anak harus dilarang ngemil. Pilihan camilan dan frekuensinya yang perlu diperhatikan.

Buah utuh, makanan dengan kandungan gula lebih rendah, atau makanan rumahan bisa menjadi alternatif. Untuk minuman, air putih merupakan pilihan sederhana yang tidak menambah paparan gula.

Yang perlu dihindari adalah pola seperti anak membawa botol minuman manis dan menyesapnya sedikit demi sedikit sepanjang hari.

7. Kenali Tanda yang Tidak Sebaiknya Diabaikan

Tidak semua masalah gigi langsung terlihat sebagai lubang besar.

Perhatikan jika anak mengeluh sakit ketika makan atau minum sesuatu yang dingin atau manis, menghindari mengunyah di satu sisi, mengalami bau mulut yang menetap, atau terlihat ada perubahan warna dan lubang pada gigi.

Gusi yang bengkak atau kemerahan di sekitar gigi yang bermasalah juga perlu diperhatikan. Karies yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi nyeri dan infeksi. (Keslan)

Jika anak mengalami nyeri gigi yang berat, pembengkakan pada wajah atau gusi, demam, sulit membuka mulut, atau kesulitan makan dan tidur karena sakit, jangan menunda pemeriksaan medis atau gigi.

Kebiasaan Kecil Lebih Penting daripada Menunggu Sakit

Menjaga gigi anak sebenarnya tidak membutuhkan rutinitas yang rumit. Yang paling penting adalah konsistensi: membatasi paparan gula, menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride, membantu anak membersihkan gigi dengan benar, dan melakukan pemeriksaan secara berkala.

Orang tua juga tidak perlu menunggu anak mengeluh sakit untuk mulai memperhatikan kesehatan giginya.

Kalau selama ini sikat gigi masih sering menjadi drama setiap malam, tidak perlu langsung mengubah semuanya. Mulai dari satu kebiasaan yang paling mudah diperbaiki, lalu bangun rutinitas secara perlahan.

Gigi anak memang kecil, tetapi masalah yang muncul dari gigi yang tidak terawat bisa cukup besar. Merawatnya sejak dini jauh lebih nyaman daripada harus menghadapi sakit gigi ketika anak sudah tidak tahan.

Post a Comment