Featured Post

Sekolah yang Ramah Anak: Apa yang Bisa Dilakukan Guru dan Orang Tua?

Sekolah seharusnya menjadi tempat anak merasa aman untuk belajar, bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan. Namun, suasana sekolah yang ramah …
Sekolah yang Ramah Anak: Apa yang Bisa Dilakukan Guru dan Orang Tua?

Kesehatan Anak Sekolah: 7 Hal yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Kesehatan Anak Sekolah: 7 Hal yang Perlu Diperhatikan Orang Tua


Anak terlihat sehat, aktif bermain, dan tetap berangkat sekolah setiap hari. Sekilas semuanya baik-baik saja. Namun, beberapa masalah kesehatan anak sekolah justru bisa berkembang tanpa keluhan yang jelas.

Data terbaru Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan bahwa pada kelompok anak usia sekolah, karies gigi menjadi salah satu masalah yang paling banyak ditemukan, disusul anemia, peningkatan tekanan darah, serta masalah gizi. Gangguan penglihatan dan pendengaran juga menjadi perhatian. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Artinya, menjaga kesehatan anak bukan hanya soal mengobati ketika mereka sakit. Ada banyak kebiasaan sederhana yang bisa dibangun sejak anak masih sekolah.

Berikut tujuh hal yang layak menjadi perhatian orang tua.

1. Perhatikan Kesehatan Gigi Anak

Sakit gigi mungkin terlihat seperti masalah kecil sampai akhirnya anak sulit makan, tidur terganggu, atau tidak nyaman mengikuti pelajaran.

Karies gigi termasuk masalah kesehatan yang banyak ditemukan pada anak usia sekolah dalam hasil CKG. Karena itu, kebiasaan menjaga gigi sebaiknya tidak dianggap sepele. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Ajarkan anak menyikat gigi secara rutin dan bantu mereka membangun kebiasaan membersihkan gigi dengan benar. Orang tua juga sebaiknya tidak hanya menunggu sampai anak mengeluh sakit sebelum memeriksakan giginya.

Perhatikan pula kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis, terutama jika dilakukan terlalu sering sepanjang hari.

2. Pastikan Anak Mendapat Asupan Gizi yang Cukup

Anak sekolah membutuhkan energi untuk belajar, bergerak, bermain, dan tumbuh. Karena itu, sarapan atau bekal sebaiknya tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memiliki komposisi makanan yang beragam.

Usahakan makanan anak mencakup sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, serta sumber lemak yang sesuai kebutuhannya.

Menariknya, persoalan gizi pada anak tidak hanya berkaitan dengan kekurangan berat badan. Gizi lebih dan obesitas juga perlu diperhatikan. Data CKG 2026 menunjukkan masalah gizi masih ditemukan pada kelompok anak sekolah dan remaja. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Jadi, jangan menggunakan berat badan sebagai satu-satunya ukuran apakah pola makan anak sudah sehat.

WHO juga menekankan pentingnya lingkungan makanan sekolah yang mendukung pilihan makanan bergizi karena kebiasaan makan pada masa sekolah dapat berpengaruh terhadap kesehatan dalam jangka panjang. (Organisasi Kesehatan Dunia)

3. Jangan Abaikan Waktu Tidur

Anak yang tidur terlalu larut belum tentu langsung terlihat sakit. Namun, kurang tidur bisa membuat anak lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan kurang bersemangat menjalani aktivitas.

Jadwal sekolah yang padat membuat rutinitas tidur semakin penting. Usahakan waktu tidur dan bangun relatif konsisten, termasuk ketika akhir pekan.

Untuk anak yang lebih besar, penggunaan gadget menjelang tidur juga perlu diperhatikan. Jika anak terbiasa menonton video atau bermain game sampai larut malam, mengubah kebiasaan tersebut mungkin perlu dilakukan secara bertahap.

Tidur yang cukup merupakan bagian dari pola hidup sehat, bukan sekadar waktu "tidak melakukan apa-apa".

4. Pastikan Anak Tetap Aktif Bergerak

Anak sekolah menghabiskan cukup banyak waktu untuk duduk: di kelas, mengerjakan tugas, perjalanan, hingga menggunakan perangkat digital di rumah.

Karena itu, waktu untuk bergerak tetap penting.

Aktivitas fisik pada anak dan remaja berkaitan dengan kebugaran, kesehatan tulang dan metabolisme, serta manfaat bagi kesehatan mental dan fungsi kognitif. WHO juga merekomendasikan anak dan remaja usia 5–17 tahun melakukan setidaknya 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat setiap hari. (Organisasi Kesehatan Dunia)

Tidak harus selalu olahraga formal.

Bermain sepak bola, bersepeda, berenang, berjalan kaki, bermain kejar-kejaran, atau aktivitas fisik lain yang disukai anak tetap bisa menjadi bagian dari rutinitas.

5. Perhatikan Mata dan Pendengaran

Gangguan penglihatan dan pendengaran dapat memengaruhi pengalaman anak di sekolah. Anak yang kesulitan melihat tulisan di papan atau mendengar penjelasan guru mungkin terlihat seperti tidak memperhatikan, padahal penyebabnya bisa berbeda.

Hasil CKG juga menunjukkan adanya temuan terkait penglihatan dan pendengaran pada anak sekolah. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Orang tua bisa memperhatikan tanda-tanda sederhana. Misalnya, anak sering menyipitkan mata, mendekatkan wajah ke buku, mengeluh sakit kepala ketika belajar, meminta volume perangkat terlalu keras, atau sering meminta orang lain mengulang perkataan.

Jika muncul keluhan yang berulang, sebaiknya jangan menebak penyebabnya sendiri. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu mengetahui apakah memang ada gangguan yang perlu ditangani.

6. Ajarkan Kebersihan sebagai Kebiasaan, Bukan Hukuman

Mencuci tangan, mandi, mengganti pakaian setelah berkegiatan, menjaga kebersihan kuku, dan menjaga kebersihan gigi terdengar sederhana. Namun, anak membutuhkan pengulangan agar kebiasaan tersebut benar-benar terbentuk.

Daripada terus mengatakan, "Jangan kotor!", orang tua bisa menjelaskan alasan di balik kebiasaan tersebut.

Misalnya, mencuci tangan sebelum makan membantu menjaga kebersihan tangan sebelum menyentuh makanan. Anak akan lebih mudah memahami aturan jika mereka mengerti tujuannya.

WHO juga memasukkan kebiasaan menjaga kebersihan, termasuk mencuci tangan dan menyikat gigi, sebagai bagian dari rutinitas sehat bagi anak usia sekolah. (Organisasi Kesehatan Dunia)

7. Jangan Lupa Kesehatan Mental Anak

Kesehatan anak sekolah tidak hanya terlihat dari berat badan, tinggi badan, atau apakah mereka jarang sakit.

Anak juga bisa mengalami stres, cemas, merasa tidak percaya diri, kesulitan berteman, atau merasa tertekan dengan sekolah.

Karena itu, berikan ruang agar anak bisa bercerita tanpa langsung dihakimi.

Alih-alih selalu bertanya, "Nilaimu berapa?", sesekali tanyakan, "Ada sesuatu yang bikin kamu tidak nyaman di sekolah?"

Perubahan perilaku juga layak diperhatikan. Anak yang tiba-tiba menjadi sangat pendiam, enggan sekolah, mudah marah, sulit tidur, atau kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai mungkin sedang menghadapi sesuatu yang perlu dibicarakan.

Bukan berarti setiap perubahan pasti menunjukkan masalah kesehatan mental. Namun, mendengarkan lebih awal jauh lebih baik daripada menunggu sampai anak benar-benar kewalahan.

Jangan Menunggu Anak Sakit untuk Mulai Peduli

Menjaga kesehatan anak sekolah sebenarnya lebih banyak berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari daripada tindakan besar.

Periksa gigi secara berkala, perhatikan makanan, jaga waktu tidur, beri kesempatan bergerak, amati penglihatan dan pendengaran, ajarkan kebersihan, dan tetap buka ruang untuk membicarakan perasaan.

Program CKG di sekolah juga semakin menekankan pendekatan preventif dan tindak lanjut hasil pemeriksaan, bukan sekadar menemukan masalah kesehatan. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Orang tua tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Pilih satu kebiasaan yang paling mudah diperbaiki minggu ini, lalu lanjutkan ke kebiasaan berikutnya.

Anak yang sehat bukan berarti anak yang tidak pernah sakit. Yang lebih penting, kebutuhan kesehatannya diperhatikan sejak dini sehingga masalah bisa dikenali dan ditangani sebelum berkembang lebih jauh.

Post a Comment