Featured Post

Sekolah yang Ramah Anak: Apa yang Bisa Dilakukan Guru dan Orang Tua?

Sekolah seharusnya menjadi tempat anak merasa aman untuk belajar, bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan. Namun, suasana sekolah yang ramah …
Sekolah yang Ramah Anak: Apa yang Bisa Dilakukan Guru dan Orang Tua?

MPLS 2026: Apa yang Perlu Disiapkan Orang Tua dan Anak?

MPLS 2026: Apa yang Perlu Disiapkan Orang Tua dan Anak?


Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS 2026 membawa pendekatan yang berbeda dari bayangan kegiatan orientasi sekolah pada masa lalu. Tahun ini, MPLS Ramah diarahkan agar murid mengenal sekolah dalam suasana yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 sebagai dasar pelaksanaan MPLS. Aturan tersebut menekankan bahwa MPLS bukan ajang perpeloncoan atau senioritas, melainkan bagian dari proses membantu murid mengenal potensi diri, warga sekolah, kurikulum, dan lingkungan sekolah.

Bagi orang tua, ini berarti persiapannya juga bukan sekadar membeli seragam dan alat tulis. Anak perlu disiapkan secara praktis sekaligus emosional agar tidak merasa sekolah sebagai sesuatu yang menakutkan.

Apa yang Berubah dalam MPLS 2026?

Salah satu perubahan penting adalah durasi MPLS yang diatur berlangsung selama lima hari pada minggu pertama tahun ajaran, dengan penyesuaian tertentu sesuai kondisi satuan pendidikan. Sekolah juga diwajibkan melakukan sosialisasi kepada orang tua atau wali sebelum kegiatan dimulai.

Materi MPLS terdiri atas materi utama dan materi pilihan. Materi utamanya antara lain Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Pagi Ceria, sopan dan santun bermedia sosial, serta budaya senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.

Yang tidak kalah penting, pelaksanaan MPLS dilarang mengandung perpeloncoan, kekerasan, pungutan biaya, atribut yang tidak edukatif, maupun kegiatan yang tidak berkaitan dengan tujuan MPLS. Pelibatan alumni sebagai penyelenggara juga dilarang.

Artinya, orang tua tidak perlu mempersiapkan anak untuk menghadapi "uji mental". Yang perlu dipersiapkan justru kemampuan anak untuk berkenalan, mengikuti kegiatan, bertanya, dan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Persiapan Anak Sebelum MPLS

1. Ceritakan Seperti Apa Kegiatan di Sekolah

Anak yang baru pertama masuk sekolah mungkin membayangkan berbagai hal karena belum tahu apa yang akan terjadi.

Orang tua bisa menjelaskan secara sederhana bahwa selama MPLS anak akan bertemu guru, mengenal teman baru, melihat ruang kelas, mengetahui lingkungan sekolah, dan mengikuti beberapa kegiatan bersama.

Hindari cerita yang membuat sekolah terdengar menyeramkan.

Kalimat seperti "Nanti jangan macam-macam, lho, ada guru galak" mungkin dimaksudkan sebagai candaan, tetapi bisa membuat anak datang ke sekolah dengan rasa takut.

2. Latih Kemandirian Sederhana

Anak tidak harus langsung bisa melakukan semuanya sendiri. Namun, beberapa kemampuan dasar akan membuatnya lebih percaya diri.

Misalnya:

  • memakai dan melepas sepatu;

  • membuka botol minum;

  • menggunakan toilet;

  • menyimpan alat tulis;

  • membawa tas sendiri;

  • meminta bantuan ketika mengalami kesulitan.

Untuk anak usia dini atau murid yang baru masuk SD, kemampuan seperti ini sering lebih berguna daripada menghafalkan banyak materi sebelum sekolah dimulai.

3. Biasakan Rutinitas Bangun Pagi

Jika selama liburan anak terbiasa bangun lebih siang, jangan menunggu malam sebelum sekolah untuk mengubah jadwal.

Mulailah secara bertahap. Tidur sedikit lebih awal, bangun lebih pagi, kemudian biasakan sarapan dan bersiap dalam waktu yang cukup.

Tujuannya bukan membuat pagi hari serba sempurna, tetapi supaya anak tidak merasa tubuhnya dipaksa mengikuti jadwal baru secara mendadak.

Apa yang Perlu Disiapkan Orang Tua?

Cek Informasi dari Sekolah

Karena sekolah wajib menyosialisasikan program MPLS kepada orang tua, jangan melewatkan informasi yang diberikan sekolah. Sosialisasi tersebut setidaknya mencakup tujuan dan asas MPLS, materi, jadwal, larangan, peran orang tua, serta mekanisme pelaporan atau pengaduan.

Periksa juga apakah sekolah memberikan daftar perlengkapan atau aturan khusus.

Jangan langsung mengikuti informasi yang beredar di grup WhatsApp orang tua sebelum memastikan sumbernya. Ini penting terutama untuk perlengkapan yang harus dibawa anak.

Siapkan Perlengkapan Sehari Sebelumnya

Tas, seragam, sepatu, alat tulis, botol minum, dan kebutuhan lain sebaiknya sudah disiapkan malam sebelumnya.

Untuk anak yang lebih besar, biarkan mereka ikut mengecek isi tas. Orang tua cukup membantu jika ada yang terlewat.

Kebiasaan kecil ini sekaligus melatih rasa tanggung jawab.

Dengarkan Kekhawatiran Anak

Anak mungkin bertanya:

"Kalau aku nggak punya teman gimana?"

"Kalau aku nggak tahu kelasnya di mana?"

"Kalau aku mau ke toilet?"

Jangan buru-buru menjawab, "Ah, gampang itu."

Bagi orang dewasa, pertanyaan tersebut memang terlihat sepele. Bagi anak yang baru memasuki lingkungan sekolah, hal itu bisa menjadi kekhawatiran sungguhan.

Jawab dengan tenang dan bantu anak membayangkan apa yang bisa dilakukan jika situasi tersebut terjadi.

Orang Tua Perlu Tahu: MPLS Bukan Ajang Pembuktian Anak

Salah satu kesalahan yang masih mungkin terjadi adalah membuat anak merasa harus terlihat berani, aktif, atau paling cepat beradaptasi sejak hari pertama.

Padahal, setiap anak punya karakter berbeda.

Ada anak yang langsung mengobrol dengan teman baru. Ada yang memilih mengamati dulu. Ada pula yang membutuhkan beberapa hari sebelum benar-benar merasa nyaman.

Pendekatan MPLS Ramah memang diarahkan untuk menciptakan pengalaman pertama yang positif dan membangun rasa aman bagi murid. Kemendikdasmen juga menekankan bahwa sekolah harus menjadi lingkungan yang menerima, menghargai, dan mendukung anak.

Jadi, tidak masalah jika anak belum langsung terlihat percaya diri.

Bagaimana Jika Anak Takut atau Tidak Mau Sekolah?

Jangan langsung menganggap anak manja atau mencari alasan.

Coba cari tahu apa yang membuatnya takut.

Apakah karena lingkungan baru? Takut tidak punya teman? Takut dimarahi guru? Atau mungkin belum terbiasa berpisah dengan orang tua?

Dengarkan tanpa menghakimi. Setelah itu, bantu anak memecah kekhawatirannya menjadi hal-hal kecil yang lebih mudah dihadapi.

Jika kecemasan terus berlangsung, mengganggu aktivitas anak, atau muncul bersama perubahan perilaku yang mengkhawatirkan, orang tua dapat berkomunikasi dengan guru atau pihak sekolah.

Sekolah dan keluarga memang perlu berjalan bersama. Pemerintah sendiri menempatkan orang tua sebagai bagian dari ekosistem yang perlu dilibatkan dalam pelaksanaan MPLS Ramah.

MPLS 2026 Seharusnya Menjadi Awal yang Menyenangkan

MPLS bukan tentang siapa yang paling berani, paling cepat beradaptasi, atau paling aktif di antara murid baru.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak mulai mengenal sekolah sebagai tempat yang aman untuk belajar dan bertumbuh.

Karena itu, persiapan terbaik dari rumah sebenarnya cukup sederhana: bantu anak memahami apa yang akan dihadapi, siapkan kebutuhan praktisnya, biasakan rutinitas, lalu beri ruang untuk beradaptasi dengan caranya sendiri.

Dan ketika anak pulang dari hari pertama MPLS, mungkin pertanyaan terbaik bukan "Kamu dapat tugas apa?", melainkan "Tadi ada hal yang bikin kamu senang?"

Dari jawaban sederhana itu, orang tua bisa mulai memahami bagaimana pengalaman pertama anak di sekolah sebenarnya.

Post a Comment